Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Hukum Safar Untuk Menghadiri Shalat Jumat

Hukum Safar Untuk Menghadiri Shalat Jumat

HUKUM BERSAFAR DENGAN TUJUAN SHALAT JUMAT

Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah ditanya:

"Bolehkah seorang yang muqim (tidak bersafar) bepergian untuk shalat Jum'at di daerah yang lain?"

Foto: Auto Vehicle | Sumber: Pixabay
Beliau menjawab dengan perkataannya:

"Apabila tujuan safarnya itu untuk mengagungkan tempat itu, maka haram. Karena tidak boleh bepergian kecuali ke tiga masjid.

Adapun jika tujuan safarnya untuk mendapatkan manfaat dari khutbah seorang khatib, dikarenakan  khutbahnya berfaedah, maka tidak mengapa. Sebab ini safar (bepergian)  untuk menuntut ilmu dan bukan safar untuk mengagungkan masjid.

Berdasarkan ini, sekiranya khatib ini pindah ke daerah lain, maka dia mengikutinya."

Sumber: Majmu' Fatawa Wa Rasail al 'Utsaimin 16/52
http://t.me/ukhwh

BACA JUGA : HUKUM SHALAT BERJAMAAH DAN SHALAT JUMAT BAGI MUSAFIR

 السفر من أجل صلاة الجمعة

سئل فضيلة الشيخ الشيخ محمد بن صالح العثيمين - رحمه الله تعالى -: هل يجوز للمقيم أن يسافر ويصلي الجمعة في بلد آخر؟

فأجاب بقوله: إن كان قصده تعظيم المكان فهو حرام؛ لأنه لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد.

أما إذا كان قصده الانتفاع بخطبة الخطيب؛ لأنها خطبة مفيدة فلا بأس. فهذا سافر للعلم، ولم يسافر للمسجد. ولهذا لو انتقل هذا الخطيب إلى بلد آخر تبعه.
مجموع فتاوى ورسائل العثيمين (16/52)

BACA JUGA : FIKIH RINGKAS SHALAT JUMAT (insyaallah mudah dipahami)

Bolehkah Orang Miskin Poligami / Ta'addud?

Bolehkah Orang Miskin Poligami / Ta'addud?

MISKIN TAPI TA'ADUD/POLIGAMI

Bismillah

Sebagian ustadz menyatakan bahawa boleh menikah lagi jika miskin dan dianjurkan isteri2nya qona'ah dan bersabar. Jika suaminya berikan makanan kurma dan air, isteri2nya harus ridho dan bersabar.

Sedangkan di dalam fatwa Sh 'Uthymeen رحمه الله beliau menetapkan 3 kondisi untuk berta'adud.

1. Harus bersikap adil
2. Kekuatan untuk melayani nafsu isteri2nya
3. Kekayaan

Bagaimana harus kita memahami hal ini yg kondisi ke 3 dari sh Uthymeen رحمه الله dan jawapan sebagian ustadz حفظهم الله kontradiksi?

Ustadz Kharisman حفظه الله: InsyaAllah kedua jawaban itu tidak kontradiksi.

Yg dimaksud dgn kekayaan menurut Syaikh Ibn Utsaimin adalah kecukupan memberi nafkah kepada istri-istri tersebut.

Sedangkan "kecukupan" itu berbeda-beda sesuai keadaan di suatu wilayah dan waktu/zaman.

Selama para istri itu qona'ah, maka tidak ada masalah. Sebagaimana istri-istri Nabi sabar dalam kekurangan, berpuluh-puluh hari cuma makan kurma dan minum air, tidak ada yg dimasak di tungku sama sekali.

Tetapi sebelum seorang menikah lagi, ia harus menjelaskan kemampuan dia sebenarnya pada calon istrinya (melalui perantara). Bahwa kemampuannya untuk memberikan nafkah, per bulan adalah segini dan segini. Ini jika diperlukan. Jangan sampai seorang calon istri itu merasa tertipu saat sudah menjadi istri, ia mengira akan mendapat nafkah dalam jumlah tertentu, tapi ternyata sangat jauh dari yg diharapkan, kemudian dia dipaksa utk qona'ah, dalam kondisi tertipu itu. Ini yg salah dan harus dihindari. Adapun jika sebelum nikah sang calon istri sdh siap dgn keadaan demikian, dan pembagian nafkah itu akan adil, maka insyaAllah tidak mengapa.

Wallaahu A'lam

Dikutip dari channel @salafysingapura
••——————————————————••

Mau Ta’addud Tapi Ekonomi Pas Pasan

PERTANYAAN

Bismillah, Ustadz afwan ana mau nanya, ada seorang ikhwan yg ingin melaksanakan ta,addud, tapi dari segi ekonomi pas pasan, bahkan untuk maju ta’addud aja dia harus menjual barang-barangnya untuk biaya nikahan nya.

Bagaimana hukum nya ustadz, apa kah syarat ta’addud tidak memerhatikan dari segi materi, karena punya keyakinan bahwa dengan menikah lagi Allah pasti akan memberi rizky dari arah yang tidak di duga-duga. Dan ikhwan tersebut tanpa izin dulu dari istri per tama nya?

JAWABAN

Dijawab oleh Ustadz Abu miqdad novel bin mas’ud hafidzahullah

Penting, tidak disyaratkan izin dari istri pertama untuk poligami, istri pertama diberi tahu sebelum atau setelah suami taadud (poligami) tergantung sudut pandang suami melihat maslahat dalam keluarganya.

Kedua bukan ukuran mutlak orang yang ta’adud harus kaya, meskipun miskin tetap syah, dan suami agar bisa mengondisikan masing masing istrinya untuk qona’ah dalam hidup yang pas pasan dan semoga Allah membuka pintu rizqinya setelah ta’adud.

Namun sebagian ulama mensyaratkan suami mampu dalam harta ketika melakukan poligami, karena banyaknya keluarga poligami yang kandas karena ketidak mampuan maisyah dari suami atau suami tersibukkan dengan dunia karena hutang yang menumpuk disebabkan antara pemasukan dan pengeluaran untuk kebutuhan hidup tidak seimbang.

Wallahu a’lam bishowab.

YAKINLAH...POLIGAMI  MERUPAKAN SEBAB DATANGNYA REZEKI

Berkata asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah :
Pernikahan adalah sebab datangnya kekayaan dan bukanlah penyebab kemiskinan...❗

Allah berfirman,

ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُوْلُوْا...

Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil 

supaya kalian tidak menjadi miskin.

Orang-orang mengatakan, "Tamu datang dengan membawa rezeki."
Maka begitu pula kita katakan, "Istri kedua datang dengan membawa rezekinya"

Lantas kenapa orang-orang takut untuk melakukan pernikahan yang kedua?
Jika mereka takut MISKIN, maka ayat di atas adalah bantahan terhadap mereka.
Dan ayat yang semakna dengan ini adalah firman Allah ta'ala yang artinya :

"Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan."•••
[QS. adh-Dhuha : 8]

Kaset Silsilah al-Huda wan Nur nomor 536
orang-miskin-poligami
Foto: Poor People | Sumber: Pixabay

MENIKAH "LAGI" DENGAN BEKAL TAKWA DAN TAWAKKAL, BUKAN MODAL NEKAT 


Al-Fadhl bin Ziyad berkata:

Saya mendengar Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) ditanya: "Apa pendapat Anda tentang menikah di zaman ini?" Maka beliau menjawab:

مثل هذا الزمان ينبغي للرجل أن يتزوج، ليت أن الرجل إذا تزوج اليوم ثنتين يفلت، ما يأمن أحدكم أن ينظر النظرة فيحبط عمله.

"Di zaman seperti ini sepantasnyalah bagi seorang pria untuk menikah, duhai kiranya jika seorang pria menikahi dua orang wanita dia akan selamat, salah seorang diantara kalian tidak bisa merasa aman jika memandang satu pandangan (yang haram) saja akan gugur amalnya."

Saya bertanya kepada beliau: "Bagaimana dia melakukannya dan dari mana dia akan memberi makan mereka?"

Beliau menjawab:

أرزاقهم عليك؟! أرزاقهم على الله عز وجل.

"Apakah engkau yang menanggung rezeki mereka?! Allah Azza wa Jalla yang menanggung rezeki mereka."

Bada-i'ul Fawaid, hal. 1406

▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫▫
Sumber kutipan:
Grup Khusus Membahas Poligami | https://t.me/maximal4
Kajian Islam Temanggung | https://bit.ly/KajianIslamTemanggung | www.ilmusyari.com
Forum Salafy Indonesia || http://bit.ly/ForumSalafy

Tazkiyah / Rekomendasi Syaikh Rabi' Terhadap Syaikh Arafat al Muhammadi

Tazkiyah / Rekomendasi Syaikh Rabi' Terhadap Syaikh Arafat al Muhammadi

REKOMENDASI AL-'ALLAMAH ASY-SYAIKH RABI' BIN HADI TERHADAP DR. ARAFAT

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد:

Sesungguhnya asy-Syaikh DR. arafat bin Hasan al-Muhammadi di antara para penuntut ilmu yang terbaik. Dia memiliki peran/keseriusan yang baik dalam dakwah.

Telah sampai kepadaku bahwa durus (pelajaran-pelajaran) -nya terhenti di situs Miratsul Anbiya. Maka aku telah mendorong pengampu situs tersebut, Khalid Baqais, untuk memulai kembali durus asy-Syaikh Arafat di siaran radio ( Miratsul Anbiya )  agar para penuntut ilmu bisa mengambil manfaat darinya.

Aku katakan, bahwa sebagian orang telah mencela dia (Arafat) dan mencela sejumlah saudara-saudaranya salafiyyin lainnya, namun tidak menunjukkan hujjah/argumentasi apapun atas celaannya tersebut. Maka celaan (kritikan) tersebut tidak bisa diterima.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman (artinya), "Katakanlah (Wahai Muhammad) datangkanlah bukti-bukti kalian jika memang kalian orang-orang yang jujur."

Semoga Allah memberikan taufiq kita semua kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم.

Rabi bin Hadi 'Umair al-Madkhali
Ahad, 27 Rabi'uts Tsani 1439 H
(14 Januari 2018 M)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه، أما بعد:

فإن الشيخ الدكتور عرفات بن حسن المحمدي من خيار طلبة العلم، وله جهود طيبة في الدعوة، وقد بلغني أن دروسه قد توقفت في موقع ميراث الأنبياء، وإني أحث مشرف الموقع خالد باقيس على استئناف دروس الشيخ عرفات في الإذاعة لينتفع طلبة العلم بها.
وأقول:  وقد طعن فيه بعض الناس وفي عدد من إخوانه السلفيين ولم يقيموا على طعنهم أي حجة، وهذا الطعن لا يقبل، والله عز وجل يقول: {قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ}.
وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه.
وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم.

قاله:
ربيع بن هادي عمير المدخلي
الأحد 1439/4/27

📥http://bit.ly/shrabee14390427


BARU!! 
PEMBAWA BENDERA JARH WAT TA'DIL AL-IMAM RABI' BIN HADI AL-MADKHALI MEMERINTAHKAN RADIO IBNU ABI ZAID AL-QAIRAWANI AGAR MELANJUTKAN KEMBALI SIARAN LANGSUNG BAGI PELAJARAN-PELAJARAN YANG DISAMPAIKAN OLEH SYAIKH ARAFAT AL-MUHAMMADI HAFIZHAHULLAH DENGAN MENGATAKAN:

 "ORANG-ORANG YANG MENCELA SAUDARA-SAUDARA MEREKA DENGAN MENYEBUT SEBAGAI SHA'AFIQAH,  MEREKA ITULAH SHA'AFIQAH YANG SEBENARNYA"

Ahad,  11 Jumadil Ula 1439 H

(جديد) حامل لواء الجرح والتعديل الإمام ربيع بن هادي المدخلي يأمر إذاعة ابن أبي زيد القيرواني بأن تواصل البث للشيخ عرفات المحمدي حفطه الله، قائلا بأن: «الذين يطعنون في إخوانهم بأنهم صعافقة هم الصعافقة».

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله،
أما بعد،

فقد قرأ الشيخ الامام ربيع المدخلي حفظه الله السؤال الذي توجهنا به إليه بخصوص الدروس المقامة في الاذاعة وخصوصا درس الشيخ عرفات المحمدي حفظه الله و المرفق في الصورة فمِمّا قال الآتي :

- دع الشيخ عرفات يواصل في اذاعة ابي زيد القيرواني.
- الذين يطعنون في اخوانهم بأنهم صعافقة هم الصعافقة.

وكان ذلك بتاريخ الاحد 11 من جمادى الاولى 1439

والحمدلله رب العالمين
ادارة اذاعة ابن أبي زيد القيرواني

✳️ 📸

https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=165841

#Imam_rabi #shaafiqah #radhietaufik_abuamira_centeng_mubtadi_ikhwani_al_imam_abdulhadiumairi_dzulqarnain #alif_indonesia

Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
Channel Telegram: http://telegram.me/tp_alhaq
http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

Tazkiyah / Rekomendasi Syaikh Rabi' Terhadap Syaikh Arafat al Muhammadi


JAWABAN ILMIYAH BAGI ORANG-ORANG YANG MEMENTAHKAN PEMBELAAN AL-ALLAMAH RABI' BIN HADI SERTA TUNTUTAN BELIAU KEPADA PARA PENCELA DOKTOR ARAFAT AL-MUHAMMADI & SAUDARA-SAUDARANYA UNTUK MENEGAKKAN HUJJAH MENGHADIRKAN BUKTI-BUKTI TUDUHAN MEREKA

Oleh : Asy-Syaikh Ali al-Hudzaifi hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

… dalam fitnah ini, dan ketika ditunjukkan kepadanya perkataan al-Allamah Rabi' bin Hadi tentang Syaikh Arafat[¹], dia berkata, “Kita memiliki prinsip pokok walhamdulilah, dan orang yang mengetahui merupakan hujjah atas orang yang tidak mengetahui, dan telah saya katakan kepadamu sejak dulu bahwa seandainya ia ditazkiyah oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal, dia di sisi kami dijarh dan jarhnya itu terperinci dan dijelaskan.”

Bagaimana komentar anda atas ucapannya ini?

[ Jawaban ]

DIA INI ORANG BODOH.
▸ Seakan-akan dia memiliki ushul sementara Rabi' tidak memiliki ushul
▸ Dia mengetahui jarh terperinci sementara Rabi' tidak mengetahui apa itu jarh yang terperinci.[²]
▸ Dia memiliki ilmu sementara Rabi' tanpa ilmu.

Orang seperti ini dan yang semisalnya, merekalah orang-orang yang sebenarnya pantas untuk dijarh. Mereka inilah para PEMBAWA FITNAH.

Saya mengijinkan untuk disebarluaskan. -selesai-

(Lihat gambar lampiran di bawah, ed)

Url: http://bit.ly/fawaid390416

|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net
// Sumber: @tp_alhaq

Catatan kaki (Penjmh)
[¹] Link audio: http://bit.ly/shrabee14390427
[²] Padahal beliau benar-benar mengetahui celaan-celaan tanpa bukti ilmiyah tersebut sehingga beliau ingkari & bahkan beliau tegas menuntut kepada para pencela untuk menegakkan hujjah menghadirkan bukti-bukti ilmiyahnya:

وأقول: وقد طعن فيه بعض الناس وفي عدد من إخوانه السلفيين ولم يقيموا على طعنهم أي حجة، وهذا الطعن لا يقبل، والله عز وجل يقول: {قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ}

Dan saya katakan: Sebagian orang telah mencelanya dan mencela beberapa saudara-saudaranya dari kalangan Salafiyyun, dan mereka tidak menegakkan hujjah (menunjukkan bukti) apapun atas celaan mereka, dan celaan semacam ini tidak bisa diterima.

Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman:

《 قُلْ هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. 》

“Katakanlah: Mana tunjukkan bukti kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.” [QS. Al-Baqarah: 111]

HADIAH TERUNTUK KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT BERUPA PERKATAAN GURU KAMI AL-ALLAMAH RABI' TENTANG DOKTOR ARAFAT & SAUDARA²NYA YANG TERPERCAYA

Asy-Syaikh Ahmad az-Zahrani¹

Saya katakan:
"Barangsiapa mengucapkan sebuah ucapan tanpa disertai bukti maka ucapannya jelas batilnya. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan wahai guru kami yang mulia,  yang suka menasehati, dan yang jujur dalam menjelaskan kebenaran dan memberikan bimbingan kepada beberapa orang."

‏"إتحاف المسلمين والمسلمات بما قاله شيخنا العلامة ربيع في حق الدكتور عرفات وإخوانه الثقات"

وأقول: من قال قولا بلا برهان فقوله ظاهر البطلان.
و جزاك الله خيرا شيخنا الكريم الناصح والصادق في بيان الحق وتوجيه بعض الناس.

https://t.co/lZ447yHsHT‎

Sumber: https://twitter.com/AlahmadiZahrani/status/952595282059022337

Catatan kaki
(1) Asy-Syaikh Ahmad az-Zahrani adalah murid khusus al-Allamah Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

#ahmad_zahrani #rabi #arafat #hadiah

Anti Terrorist Menyajikan Bukti & Fakta Yang Nyata
Channel Telegram: http://telegram.me/tp_alhaq
http://tukpencarialhaq.com || http://tukpencarialhaq.wordpress.com

Biografi Hamzah bin Abdul Muthalib

Biografi Hamzah bin Abdul Muthalib

Hamzah bin Abdil Muthalib

Inilah nama seorang shahabat yang tidak asing di sisi kaum muslimin. Hamzah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf Al Qurasy Al Hasyimy radhiyallahu ‘anhu, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibu susu Hamzah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Tsuwaibah maulah dari Abu Lahab. Beliau lahir dua tahun atau empat tahun sebelum kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

biografi-hamzah-bin-abdul-muthalib
Foto: Desert | Sumber: Pixabay

Ia berjuluk asadullah wa asadur Rasul “Singa Allah dan singa Rasul-Nya.” Sebab sejak memeluk Islam, Hamzah radhiyallahu ‘anhu telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da’wah islam.

Ayahnya adalah Abdul Muththalib kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ibunya adalah Haalah binti Uhaib dari Bani Zuhrah. Haalah binti Uhaib bin Abdil Manaf sendiri adalah saudari sepupu dari Aminah binti Wahab, ibu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau berkuniah Abu ‘Umarah, atau Abu Ya’la. ‘Umarah maupun Ya’la keduanya adalah putra beliau. Beliau masuk Islam pada tahun kedua dari tahun diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul. Sebagian berpendapat bahwa beliau masuk Islam di tahun keenam, yakni tahun di mana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan rumah Al Arqam sebagai tempat menyebarkan dakwah.

Di antara sekian banyak paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (diperselisihkan tentang jumlah paman Nabi dari Abdul Muthalib, sebagian berpendapat sejumlah sepuluh, sebagian lain berjumlah dua belas) hanya beliau dan Al Abbas yang menyatakan Islam.

Hamzah Bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu termasuk tokoh Quraisy yang disegani. Ia radhiyallahu ‘anhu ikut Hijrah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ikut dalam perang Badar sebagai komandan pasukan muslimin.

Beliau membunuh Utbah bin Rabiah dalam perang tanding di pertempuran ini. Beliau juga membunuh banyak pemuka Quraisy dalam perang tersebut. Lalu kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam perang ini.

Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh lebih dari 30 orang kafir Quraisy. Namun Allah menghendaki gugurnya Hamzah sebagai syahid dalam perang ini. Sesaat setelah kaum muslimin merasa di atas angin, turunlah pasukan pemanah dari atas bukit. Hal ini menjadi kesempatan bagi pasukan musyrikin untuk memukul balik kaum muslimin.

Saat itu Hamzah terus bersemangat dalam peperangan hingga di saat beliau baru saja mengalahkan Siba’ bin Abdul Uzza, saat itu beliau terkena lemparan tombak Wahsyi bin Harb Al Habasyi maula Jubair bin Ady. Wahsyi adalah seorang budak yang mahir memainkan tombak. Ia dijanjikan kebebasan oleh Hindun bila dapat membunuh Hamzah bin Abdil Muthalib radhiyallahu ‘anhu.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, beliau menangis karena kesedihan serta marah. Dengan keji kaum musyrikin telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.

Demikian pula seluruh jenazah kaum muslimin yang gugur dalam pertempuran itu mereka cincang, kecuali jenazah Handhalah bin Ar Rahib. Hal ini disebabkan Abu Amir Ar Rahib (ayahnya) berada di barisan Abu Sufyan.

Diriwayatkan bahwa para wanita musyrikin yang mengikuti perang tersebut memotong hidung serta telinga dan merobek perut-perut para syuhada. Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, sang singa Allah, seraya bersabda yang artinya,

“Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.”

Dan Allah menurunkan Firman-Nya

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرۡتُمۡ لَهُوَ خَيۡرٌ لِّلصَّـٰبِرِينَ
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” [Q.S. An Nahl: 126]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Hamzah bin Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu sebagai “Sayidus Syuhada” (pemimpin para syahid).

Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin menshalatkan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama Hamzah dishalatkan lalu dibawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya di situ.

Lalu jenazah itu diangkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian dibawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya menshalatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatkan para syuhada Uhud satu persatu.

Hingga jika dihitung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah menshalatkan Hamzah radhiyallahu ‘anhu sebanyak tujuh puluh kali. Begitu besar kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada paman beliau ini.

Hamzah bin Abdil Muthalib meninggal pada pertengahan bulan syawal tahun 3 H, pada umur 59 tahun. Beliau dimakamkan menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsy, anak dari saudari beliau, semoga Allah merahmatinya.

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 34 vol.03 1435H-2014M rubrik Figur. | http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2014/02/hamzah-bin-abdil-muthalib.html

KISAH AWAL MULA HAMZAH MASUK ISLAM

Saat Hamzah dan Umar bin Al-Khaththab masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah tidak semakin kendor.

Melalui paman Nabi,  kaum musyrikin meminta Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Abu Jahl semakin hebat memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Suatu kali dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diapun mencaci maki dan menyakiti beliau. Namun tindakannya itu tidak digubris oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak berbicara sepatah katapun kepadanya.

Ternyata ada salah seorang maula (budak) dari ‘Abdullah bin Jud’an mendengar hal ini. Diapun sengaja menyingkir ke balai pertemuan Quraisy di dekat Ka’bah dan duduk bersama mereka. Tak lama kemudian datanglah Hamzah bin ‘Abdul Muththalib sambil menenteng panahnya. Agaknya dia baru pulang berburu.

Dan Hamzah apabila pulang berburu tidak langsung ke rumah keluarganya, namun melakukan thawaf di Ka’bah (lebih dulu). Dia termasuk pemuda bangsawan Quraisy dan berwatak keras. Ketika dia melewati maula tersebut dan waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pulang ke rumahnya, dia (budak tersebut) berkata:

“Hai Abu ‘Imarah, seandainya kau melihat apa yang dilakukan Abul Hakam bin Hisyam terhadap ponakanmu, yang dia lihat duduk di sini kemudian dia menyakitinya, mencaci maki dan mencercanya. Kemudian dia pergi dan Muhammad sama sekali tidak berbicara dengannya sepatah katapun.”

Mendengar keterangan ini, Hamzah tidak dapat menahan marahnya, di mana juga Allah memang menghendaki kemuliaan baginya. Hamzah segera keluar dan tidak menyapa siapapun, padahal setiap dia melewati tempat pertemuan itu dia senantiasa berbincang-bincang dengan orang yang ada di sana. Sekarang dia keluar sengaja mencari Abu Jahl untuk memberi pelajaran keras kepadanya.

Ketika Hamzah memasuki masjid dan melihat Abu Jahl duduk dengan beberapa orang, dia sengaja mendekatinya. Setelah dekat dengan Abu Jahl, Hamzah segera memukul kepalanya dengan anak panah yang ada di tangannya sampai berdarah dan berkata:

“Kau berani mencaci makinya? Aku di atas agamanya, akupun mengucapkan apa yang diucapkannya. Coba balas, kalau kau berani!”

Beberapa orang yang ada di dekat Abu Jahl dari Bani Makhzum segera berdiri mengepung Hamzah karena ingin membela Abu Jahl. Tapi Abu Jahl berkata: “Tinggalkan  Abu ‘Imarah, aku -demi Allah- benar-benar sudah mencaci maki keponakannya dengan umpatan yang sangat buruk.”

Sejak itu keislaman Hamzah mulai berkembang sempurna. Dan orang-orang kafir Quraisy mulai menyadari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah kuat dan mempunyai pembela. Mereka pun mulai mengurangi penindasan mereka terhadap beliau dan para shahabatnya.

Sebagian ahli sejarah menceritakan setelah mengucapkan kata-katanya di depan Abu Jahl itu, Hamzah sempat menyesal dan bingung, kemudian dia berdo’a kepada Allah di sisi Ka’bah. Akhirnya setelah merasa lega dia segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Dan beliaupun mendoakan agar Allah mengokohkan Hamzah dalam keyakinannya.

Sumber: http://salafy.or.id/blog/2012/06/02/kisah-hamzah-dan-umar-masuk-islam/

Biografi Qatadah bin Di’amah As Sadusi

Biografi Qatadah bin Di’amah As Sadusi

Sang Imam Tuna Netra

“Aku tidak menyangka Allah azza wajalla menciptakan manusia dengan kekuatan hafalan sepertimu,” tukas Sa’id bin Musayyib rahimahullah. Sampai sedemikian halnya kekaguman seorang penghulu ulama tabi’in, Sa’id bin Musayyib terhadap hafalan muridnya ini. Siapakah dia hingga begitu kagum dengan kapasitas hafalannya?

Pembaca Qudwah yang budiman, sejarah telah merekam keberadaan ulama-ulama besar dengan kekuatan hafalan yang sangat luar biasa dan menakjubkan. Fakta di lapangan membuktikan bahwa kuatnya hafalan mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh menjulang tinggi. Di antara simbol kekuatan hafalan sekaligus guru besar di bidang ilmu tafsir adalah Qatadah bin Di’amah As Sadusi rahimahullah.

Beliau adalah Qatadah bin Di’amah bin Qatadah bin Aziz, namun dalam pendapat lain namanya adalah Qatadah bin Di’amah bin ‘Ukabah As Sadusi Al Bashri rahimahullah. Adapun As Sadus berasal dari Bani Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’lab bin Bakr bin Wail yang merupakan suku Arab bagian utara.

Adz Dzahabi rahimahullah menyebut beliau sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis). Ulama tabiin dengan banyak kelebihan ini dilahirkan pada tahun 60 H dan terlahir dalam keadaan kedua matanya buta.

Ya, Qatadah adalah seorang tuna netra sejak terlahir dari rahim sang ibu. Namun sungguh pun demikian keadaan tersebut bukanlah penghambat perjuangannya menuntut ilmu hingga akhirnya menjadi ulama tafsir terkemuka. Dan sungguh ajaib kekuatan memorinya.

Bisa kita bayangkan, ulama sekelas Sa’id bin Musayyib rahimahullah saja begitu kagum setelah mengetahui kekuatan hafalannya.

Ulama ini pernah menimba ilmu dari sekian shahabat seperti Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Sarjis radhiyallahu ‘anhu, Handzalah Al Katib radhiyallahu ‘anhu, Abu Thufail Al Kinani radhiyallahu ‘anhu, Anas bin An Nadhr radhiyallahu ‘anhu, dan selainnya.

Di samping itu, Qatadah pun pernah meriwayatkan dari ulama-ulama besar tabiin yang sezaman dengannya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam Al Bidayah Wan Nihayah bahwa Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan sekelompok ulama tabiin seperti Said bin Al Musayyib, Abul Aliyah, Zurarah bin Aufa, Atha, Muhammad bin Sirin, Masruq, Al Hasan Al Bashri dan yang lainnya. Untuk nama yang terakhir bahkan Qotadah pernah berguru kepadanya selama dua belas tahun lamanya.

Adapun ulama-ulama tenar yang pernah meriwayatkan darinya cukup banyak seperti Ayyub As Sikhtiyani, Ibnu Abi Arubah, Ma’mar bin Rasyid, Al Auzai, Mis’ar bin Kidam, Syu’bah bin Al Hajjaj, Abu Awanah Al Waddah, Hammad bin Salamah dan masih banyak yang lainnya.

KEKUATAN HAFALAN QOTADAH BIN DI'AMAH

Sebagaimana gelar mufassir yang disematkan kepada beliau, Qatadah memang memiliki perhatian begitu besar terhadap Al Quran. Dikisahkan bahwa beliau terbiasa secara rutin mengkhatamkan Al Quran beberapa hari sekali dan jika telah masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau pun menghatamkan Al Quran dengan frekuensi lebih banyak.

Abu Awanah berkisah, “Aku pernah menyaksikan Qatadah mempelajari Al Qur’an pada bulan Ramadhan. Qatadah biasanya menghatamkan Al Qur’an selama tujuh hari dan jika datang bulan Ramadhan beliau menghatamkannya selama tiga hari. Adapun jika telah tiba sepuluh malam terakhir, beliau pun menghatamkan Al Qur’an setiap malam.”

Meskipun tuna netra, Qatadah dianugerahi hafalan yang kuat dan ingatan yang begitu kokoh. Mathar mengatakan, “Apabila Qatadah mendengar suatu hadis maka ia langsung bisa menghafalnya.”.

Ghalib bin Al-Qaththan berkata, “Siapa yang ingin melihat manusia dengan hafalan paling kuat yang pernah kita jumpai maka hendaknya ia melihat kepada Qatadah.”

Suatu hari Qatadah datang menemui Said bin Al Musayyib dan memperbanyak periwayatan darinya selama beberapa hari. Said pun bertanya kepadanya, “Seluruh apa yang engkau tanyakan kepadaku bisa menghafalnya?” “Ya,” jawab Qatadah.

Luar biasa, Qatadah mampu menghafal semua pertanyaan dan jawaban yang disampaikan Said dengan baik tanpa celah hingga Said merasa kagum seraya berkata, “Aku tidak menyangka Allah telah menciptakan manusia seperti dirimu.” Said juga menyatakan, “Tidak ada orang Irak yang pernah kutemui hafalannya lebih kuat daripada Qatadah.”

Qatadah adalah simbol kekuatan hafalan di masanya karena memang memorinya sangat kokoh dan menakjubkan hafalannya. Tidak mengherankan jika apa saja yang didengar pasti terekam dan terpatri dalam kalbunya.
Qatadah sendiri pernah menyatakan, “Aku tidak pernah sama sekali mengatakan kepada orang yang bicara kepadaku, ‘Tolong ulangi lagi ucapan Anda.’ Dan apa saja yang didengar oleh telingaku pasti tersimpan dalam hatiku.”
Imam Ahmad rahimahullah pernah membicarakan tentang Qatadah secara panjang lebar dan memaparkan tentang keilmuan, kefakihan dan pengetahuannya tentang khilaf ulama dan ilmu tafsir. Imam Ahmad juga mengatakan bahwa Qatadah adalah orang yang kuat hafalannya dan orang ahli fikih.

Imam Ahmad berkata, “Teramat jarang Anda jumpai ada seorang yang bisa mengunggulinya. Namun kalau dikatakan ada yang seperti Qatadah, maka bisa saja terjadi. Ia adalah orang yang paling hafal dari kalangan penduduk Basrah. Tidaklah ia mendengar sesuatu melainkan langsung bisa menghafalnya.”

ULAMA ADALAH MANUSIA BIASA

Adz Dzahabi rahimahullah menjelaskan, “Qatadah adalah hujjah menurut kesepakatan para ulama jika beliau menjelaskan dan menegaskan periwayatannya. Karena sebagaimana diketahui beliau termasuk ulama mudallis (orang yang melakukan tadlis) dalam meriwayatkan hadis. Tadlis secara bahasa adalah menyembunyikan aib dalam hadis dan menampakkan adanya kebaikan secara lahir.

Ada perbincangan pula di kalangan ulama tentang ketergelinciran beliau dalam masalah takdir. Namun demikian tidak satu ulama pun yang meragukan kejujuran, keadilan, dan kekuatan hafalannya. Semoga Allah memberikan udzur karena demikianlah karakter dasar manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan. Apalagi beliau sendiri telah mengerahkan segenap daya dan upaya dalam melakukan ijtihad.

Seorang ulama yang berijtihad kemudian terjatuh dalam kesalahan, maka ia tetap mendapatkan satu pahala. Kemudian para ulama besar yang banyak menepati kebenaran, diketahui pula upayanya dalam mencari kebenaran, keilmuannya luas, kecerdasannya menonjol, dikenal pula kesalihan, sikap wara’, dan komitmennya terhadap sunnah, maka ulama dengan karakteristik demikian ini akan diampuni ketergelincirannya dan kita tidak boleh memvonis sesat terhadapnya, merendahkannya serta melupakan kebaikan-kebaikannya.

Inilah sikap yang benar, kita tidak boleh mengikuti bid’ah dan kesalahannya serta kita berharap semoga ia bertobat darinya.”

Sebagian ulama menambahkan keterangan bahwa Qatadah sempat tergelincir dalam masalah takdir namun pada akhirnya bertobat dan ruju’ (kembali) kepada kebenaran. Beliau pun tidak pernah mengajak manusia kepada pemikiran tersebut dan bahkan tidak pernah membicarakannya di hadapan kaum muslimin.

Qatadah menghiasi kehidupannya dengan penuh kerendahan hati dan selalu berusaha menjaga sikap ilmiyahnya. Meskipun terhitung sebagai ulama besar di masanya namun beliau tidak malu dan gengsi untuk menyatakan tidak tahu ketika ditanya. Namun kredibilitas beliau sebagai ulama besar tetap eksis dan bersinar.

Abu Hilal berkisah, “Suatu ketika aku pernah bertanya kepada Qatadah tentang suatu permasalahan.” Ia pun menjawab, “Aku tidak tahu.” Aku katakan kepadanya, “Jawablah dengan pendapatmu.” “Aku tidak pernah menjawab pertanyaan dengan logikaku semenjak empat puluh tahun yang lalu.” Dalam riwayat lain beliau menegaskan, “Aku belum pernah dengan logikaku semenjak tiga puluh tahun yang lalu.”

Biografi Qatadah bin Di’amah As Sadusi
Foto: Mushroom | Sumber: Pixabay

UNTAIAN-UNTAIAN NASIHATNYA

Beliau adalah figur ulama yang berusaha mengaplikasikan amal saleh dalam kehidupan keseharian. Beliau juga acap kali menyampaikan nasihat. Beliau pernah berpesan, “Waspadalah dan berhati-hatilah dari sikap memberat-beratkan, berlebih-lebih dan ekstrim serta ujub terhadap diri sendiri. Hendaknya kalian bersikap tawadhu pasti Allah akan meninggikan derajat kalian.”

Di lain kesempatan Qatadah mengatakan, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan senantiasa bersamanya. Dan siapa saja yang disertai Allah, maka dia bersama dengan golongan yang tidak terkalahkan, Penjaga yang tidak pernah tidur dan Pemberi hidayah yang tidak pernah tersesat.”

Dalam bab tauhid, Imam Al Bukhari meriwayatkan ucapan Qatadah yang sangat terkenal bahwa beliau menyatakan, “Allah menciptakan bintang-bintang di langit untuk tiga hal, yaitu sebagai perhiasan di atas langit, sebagai pelempar setan dan sebagai tanda penunjuk. Barang siapa menafsirkan fungsi bintang-bintang untuk selain tujuan tersebut di atas, berarti dia telah melakukan kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak diketahui ilmunya.”

Faedah-faedah ilmiyah pun sering terucap dari lisan beliau sebagaimana apa yang pernah beliau tegaskan, “Satu bab ilmu yang dihafal oleh seseorang dan dia gunakan untuk memperbaiki keadaan dirinya serta manusia lebih utama daripada dia beribadah selama satu tahun.” Beliau pun motivator ulung dalam perjuangan menuntut ilmu agama, perhatikanlah ucapan beliau berikut ini, “Kalau seandainya ada seseorang yang merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, niscaya Musa akan merasa cukup dengan ilmunya, namun ternyata Musa terus mencari tambahan ilmu.”

AKHIR HIDUP QATADAH

Imam Qatadah meninggal pada tahun 117 H dalam usia 57 tahun di Wasith karena penyakit tha’un dan dimakamkan di kota tersebut. Kepergian beliau ini membuat kaum muslimin terutama yang tinggal di negerinya begitu sedih karena kehilangan ulama besar di zamannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau serta kita semua. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 55 vol.05 1439 H rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafy Abdullah. | http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2017/12/sang-imam-tuna-netra.html

Inilah Mengapa Kita Tidak Boleh Duduk & Mendengarkan Ucapan Ahli Bid'ah

Inilah Mengapa Kita Tidak Boleh Duduk & Mendengarkan Ucapan Ahli Bid'ah

MENGAPA TIDAK BOLEH ENGKAU DUDUK BERSAMA AHLI BID'AH DAN MENYIMAK UCAPAN MEREKA?

Al-Allamah Ibnul Utsaimin rahimahullah berkata:

فاذا وجدنا مبتدعا" عنده طلاقة في اللّسان و سحر بالبيان ,. فانّه لا يجوز أن نجلس اليه لأنّه مبتدع . لماذا لا يجوز ؟

Maka jika kita mendapati seorang ahli bid'ah, yang dia memiliki lisan yang fasih, dan bisa "menyihir" dengan ceramahnya, maka sesungguhnya kita tidak boleh duduk bersamanya karena dia itu seorang ahli bid'ah. Mengapa tidak boleh?

أولا: لأنّنا نخشىٰ من شره ,فانّ النبيّ -صلى اللّٰه عليه وعلى اله وسلم- قال

● Yang pertama: Karena kita takut tertimpa kejelekkannya. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"انّ من البيان لسحرا"

"Sesungguhnya dalam sebagian ceramah itu ada sihir."

قد يسحر عقولنا حتى نوافقه على بدعته.

Terkadang ia bisa menyihir akal-akal kita hingga kita menyetujui kebid'ahannya.

ثانيا" : انّ فيه تشجيعا" لهذا المبتدع ,أن يكثر النّاس حوله ,أو أن يجلس اليه فلان و فلان من الأشراف و الوجهآء و الأعيان ,هذا يزيده رفعة" و اغترارا" بما عنده من البدعة ,و غرورا" في نفسه.

● Yang Kedua: Hal itu akan menyemangati ahli bid'ah tersebut, tatkala banyak manusia duduk di sekelilingnya, atau duduk dihadapannya fulan dan fulan dari orang terhormat, tokoh-tokoh dan orang tertentu. Hal ini akan menambah dia semakin tinggi dan bisa mengelabui (manusia) dengan kebid'ahannya dan ia tertipu dengan dirinya.

ثالثا" : اساءة الظنّ بهذا الذي اجتمع الى صاحب البدعة , وقد لا يتبيّن هذا الا بعد حين ,فانّ النّاس اذا رأوك تذهب الى صاحب البدعة سوف يتهمونك وان لم يتبيّن هذا الا بعد حين

● Yang ketiga: Akan menimbulkan buruk sangka dengan orang yang berkumpul dengan ahli bid'ah ini. Dan terkadang hal ini tidak nampak kecuali setelah sekian lama. Karena manusia itu jika mereka melihat engkau pergi kepada ahli bid'ah, mereka akan mencurigaimu. Dan sekalipun hal itu tidak nampak jelas kecuali setelah sekian lama.

و لهذا ينبغي لطالب العلم -بل يجب عليه- أن يجتنب الجلوس الى أهل البدع

Oleh karena itu sepantasnya bagi penuntut ilmu, bahkan WAJIB BAGINYA untuk menjauhi duduk-duduk dengan ahli bid'ah.

[Syarh al-Hilyah h. 314]
Sumber || http://t.me/sahabiette

Kunjungi || https://goo.gl/pQRYpm

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy

MEREKA TIDAK MAU MENDENGAR DARI AHLUL BID'AH

Asy Syeikh Robi' Bin Hadi Al Madkholi hafidzohullah:

Dan para jibal Ulama' (Ulama' besar) seperti Ibnu Sirin, Ayyub As Sikhtiyani, mereka tidak mau mendengarkan ahlul bid'ah apabila mereka diminta untuk itu, walaupun yang akan dibacakan adalah AYAT AL QUR'AN!!

Yang demikian ini karena mereka ingin menjaga aqidah mereka dan khowatir terjatuh kepada fitnah.

Sumber: Bayan Ma Fi Nasihati Ibrohim Ar Ruhaili Minal Kholal Wal Ikhlal: 35
Telegram: https://bit.ly/Berbagiilmuagama
Alih bahasa: Abu Arifah Muhammad Bin Yahya Bahraisy
http://www.ilmusyari.com/2016/01/mereka-tidak-mau-mendengar-dari-ahlul.html

Ucapan Salaf dalam Memperingati Ahlul Bid'ah dan Ahlul Ahwa

Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi Al Hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping yahudi dan nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah.” (Al Lalikai 4/638 nomor 1149)

Hanbal bin Ishaq berkata, saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata :
“Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid’ah, duduk dan bergaul dengan mereka.” (Al Ibanah 2/475 nomor 495)

Dari Habib bin Abi Az Zabarqan ia berkata, Muhammad bin Sirin apabila mendengar ucapan ahli bid’ah, menutup telinganya dengan jarinya kemudian berkata :
“Tidak halal bagiku mengajaknya berbicara sampai ia berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.” (Al Ibanah 2/473 nomor 484)

Seorang ahli ahwa’ berkata kepada Ayyub As Sikhtiyani :
“Hai Abu Bakr, saya ingin bertanya tentang satu kalimat.”
Beliau menukas –sambil berisyarat dengan jarinya– :
“Tidak, meskipun setengah kalimat. Tidak, meskipun setengah kalimat.” (Al Ibanah 2/447 nomor 402)

Imam Ahmad berkata dalam risalahnya untuk Musaddad :
“Jangan kamu bermusyawarah dengan ahli bid’ah dalam urusan agamamu dan jangan jadikan dia teman dalam safarmu (bepergian).” (Al Adabus Syari’ah Ibnu Muflih 3/578)

Ibnul Jauzy berkata :
“Allah, Allah. Janganlah berteman dengan mereka ini (ahli bid’ah). Dan wajib kamu cegah anak-anak kecil bergaul dengan mereka agar jangan terpatri sesuatu (perkara bid’ah) dalam hati mereka dan jadikan mereka sibuk (mempelajari) hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam agar watak mereka terbentuk di atasnya.” (Ibid 3/577-578)

Imam Al Barbahary berkata :
“Apabila tampak bagimu satu perkara bid’ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan.” (Syarhus Sunnah 123 nomor 148)

Dan kata beliau :
“Perumpamaan ahli bid’ah itu seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan badan mereka di dalam tanah dan mengeluarkan ekornya maka jika mereka telah mantap dengan posisinya maka mereka menyengat mangsanya. Demikian pula ahli bid’ah, mereka menyembunyikan bid’ah di tengah-tengah manusia lalu apabila mereka telah mantap dengan kedudukannya mereka sampaikan apa yang mereka inginkan.” (Thabaqat Hanabilah 2/44)

Saya (Jamal bin Farihan) katakan, demikianlah keadaan Ikhwanul Muslimin (dan kelompok dakwah sempalan lainnya, pent.) mereka mencari kedudukan dan jika telah mantap posisi mereka maka mulailah mereka melancarkan tindakan-tindakan dalam menyelisihi Ahlus Sunnah.

(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits, Pengantar Ustadz Muhammad Umar As Sewwed.)
http://salafy.or.id/blog/2004/03/30/bahayanya-duduk-bergaul-berjalan-bersama-ahli-bidah/

Imam Abu ‘Utsman Ismail Ash Shabuni rahimahullah mengatakan (Aqidah Salaf Ashabul Hadits halaman 114-115) –ketika menerangkan sikap dan pendirian Salafus Shalih terhadap bid’ah dan Ahlul Bid’ah– :

“Salafus Shalih membenci Ahlul Bid’ah yang (mereka itu) mengada-adakan perkara baru dalam agama ini yang (justru) bukan berasal dari agama itu sendiri. Salafus Shalih tidak mencintai Ahlul Bid’ah, tidak mau bersahabat dengan mereka, tidak mendengar perkataan mereka, tidak duduk bermajelis dengan mereka, tidak berdebat dengan mereka dalam masalah agama, bahkan tidak mau berdialog dengan mereka. Salafus Shalih selalu menjaga telinga jangan sampai mendengar kebathilan Ahlul Bid’ah yang dapat menembus telinga dan membekas di dalam hati, dan akhirnya menyeret segala bentuk was-was dan pemikiran-pemikiran yang rusak.”


Inilah Mengapa Kita Tidak Boleh Duduk, Mendengar dan Membaca Buku Ahli Bid'ah
Foto: chair | Sumber: Pixabay

Lalu Bagaimana dengan Buku-buku Ahli Bid'ah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan :

“Ahlul Bid’ah itu tidak bersandar kepada Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah serta Atsar Salafus Shalih dari kalangan Shahabat maupun Tabi’in. Mereka hanya berpedoman dengan logika dan kaidah bahasa. Dan kamu akan temukan mereka itu tidak mau berpedoman dengan kitab-kitab tafsir yang ma’tsur (bersambung riwayat dan penukilannya). Mereka hanya berpegang dengan kitab-kitab adab (sastra dan tata bahasa) serta kitab-kitab ilmu kalam (filsafat dan logika). Kemudian dari sinilah mereka membawakan pendapat dan pemikiran mereka yang sesat.” (Al Fatawa 7/119)

Dan mengenai sikap terhadap mereka (Ahlul Bid’ah) ini, Allah Ta’ala berfirman :

“Dan jika kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka mengadakan pembicaraan yang lain.” (Al An’am : 68)

Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muflih, mengatakan (dalam Al Adabus Syari’ah 1/125) : “Dan adalah Salafus Shalih itu selalu melarang manusia duduk bermajelis dengan Ahlul Bid’ah, membaca kitab-kitab mereka, dan memperhatikan ucapan mereka.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan (dalam Ath Thariq Al Hakimiyah halaman 227) : “Tidak perlu adanya jaminan (minta izin) untuk membakar buku-buku sesat dan memusnahkannya.”

Beliau melanjutkan : “Semua kitab-kitab tersebut isinya mengandung berbagai perkara yang menyeleweng dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tanpa ada tuntunan di dalamnya, bahkan diizinkan untuk merusak dan memusnahkannya. Tidak ada yang lebih besar bahayanya bagi umat ini dibandingkan dengan buku-buku tersebut. Para Shahabat telah membakar segenap mushaf yang menyelisihi mushaf ‘Utsman karena mereka takut akan bahaya yang menimpa umat ini akibat perbedaan yang terdapat dalam mushaf-mushaf tersebut. Lalu, bagaimanakah halnya seandainya mereka (para Shahabat tersebut) melihat kitab-kitab sesat yang telah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di tengah-tengah ummat ini??” (Ibid halaman 327-328)

Demikian kata beliau. Maksud ucapan beliau ini adalah, bahwa segenap kitab sesat yang mengandung kedustaan dan kebid’ahan, wajib dirusak dan dimusnahkan dan ini lebih utama (lebih besar pahalanya) daripada merusak alat-alat permainan atau alat-alat musik dan merusak bejana-bejana tempat menyimpan khamer (segala yang memabukkan), karena mudlarat (kerusakan) yang ditimbulkan kitab-kitab sesat ini jauh lebih besar daripada mudlarat yang ditimbulkan oleh alat-alat permainan, musik, ataupun khamer. Maka tidak perlu jaminan (minta izin) untuk merusak dan memusnahkannya sebagaimana tidak perlu jaminan (minta izin) untuk merusak bejana-bejana penyimpanan atau penampungan khamer. (Ibid. Halaman 329)

Dikutip dari : http://salafy.or.id/blog/2003/08/27/manhaj-salaf-dalam-mensikapi-buku-buku-ahlul-bid%E2%80%99ah/

➖➖➖➖

Berkata Ibnu Abbas radhiallahu'anhu,

لا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الأَهْوَاءِ، فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقُلُوبِ

"Jangan sekali-kali kalian duduk dengan pengikut hawa nafsu. Sungguh, sekadar duduk bercengkrama dengan mereka, dapat menumbuhkan penyakit hati."

Diriwayatkan oleh Ibnu Batthah dalam Al Ibanah Al Kubra hal. 619
Diterjemahkan oleh: al-Ustadz Abdul Wahid at-Tamimi | t.me/warisansalaf

Biografi Dihyah Al Kalbi

Biografi Dihyah Al Kalbi

Dihyah Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu

Jibril Mendatangi Nabi dengan Rupa Beliau

Kali ini, figur kita adalah shahabat dari kalangan Anshar. Seorang shahabat senior yang sangat dikenal saat itu. Nama shahabat ini adalah Dihyah bin Khalifah bin Farwah bin Fadhalah bin Zaid bin Imriil Qais bin Al Khazraj bin Amir bin Bakr bin Amir Al Akbar bin Auf bin Bakr bin Auf bin Udzrah bin Zaid Al Laat Al Kalbi radhiyallahu ‘anhu.

Termasuk dari shahabat yang masuk Islam sebelum Perang Badar. Namun begitu, beliau tidak sempat mengikuti perang Badar. Beliau mengikuti Perang Uhud dan peperangan-peperangan setelahnya. Istri beliau adalah Durrah bintu Abi Lahab, anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dihyah Al Kalbi memiliki banyak kelebihan. Di antara kelebihan beliau adalah kemampuan mengenal secara mendalam peta geografi Negeri Syam dan Jazirah, sehingga beliau banyak memberikan masukan tentang Negeri Syam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, beliau juga termasuk seorang ahli perang, terbukti dengan ditunjuknya beliau menjadi salah satu komandan perang dalam perang Yarmuk.

Beliau juga termasuk shahabat nabi yang memiliki kedekatan hubungan dengan beliau, sehingga beliau termasuk orang-orang yang diperbolehkan menemui Nabi tanpa meminta izin terlebih dahulu, dan beliau termasuk shahabat Rasul yang sering duduk bersama nabi dalam waktu yang lama.

Sehingga putri As Shiddiq, Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha merasa heran dengan keistimewaan ini. Beliau juga pernah menghadiahi Nabi sepasang Khuf dan beliaupun menerima hadiah tersebut.

Dari segi fisik, Dihyah bin Khalifah Al Kalbi adalah seorang yang memiliki paras yang sangat rupawan, beliau disebut sebagai dalam kitab tarikh sebagai seorang yang mirip dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, sering kali malaikat Jibril menampakkan diri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rupa Dihyah. Diriwayatkan dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كَانَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ يَأۡتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فِي صُورَةِ دِحۡيَةَ

“Dahulu Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rupa Dihyah.” [H.R. Ahmad dengan redaksi ini, sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Selain kebaikan fisik beliau, Dihyah adalah salah satu ipar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahi salah seorang saudari beliau yang bernama Syaraaf bintu Khalifah bin Farwah.

Bahkan sebelum menikahi saudarinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahi keponakan beliau yang bernama Khaulah binti Al Hudzail bin Qabishah bin Hubairah bin Al Haris bin Hubaib At Taghlabiyah. Ia adalah putri dari saudari Dihyah yang bernama Kharnaq bintu Khalifah Al Kalbiyah.

Nabi menikahi Khaulah binti al Hudzail, namun wanita tersebut meninggal di perjalanan dari negeri Syam sebelum beliau sampai kepada Nabi. Dalam pernikahan dengan Syaraaf bintu Khalifah pun, sang wanita juga ditakdirkan meninggal dalam perjalanan menuju kepada Nabi.

Biografi Dihyah Al Kalbi
Foto: Kaktus | Sumber: Pixabay

Dihyah Al Kalbi, Utusan dari Utusan Allah

Dihyah adalah salah seorang shahabat yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Heraklius, Raja Romawi saat itu. Beliau diutus untuk mendakwahkan Islam di tahun ke enam hijriyyah, tepatnya setelah terjadi perjanjian Hudaibiyyah.

Beliau ditemani oleh salah seorang shahabat, Hayyan bin Milh radhiyallahu ‘anhu.

Saat itu, sebenarnya Heraklius telah membenarkan kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ia enggan untuk masuk ke dalam Islam karena merasa takut dari gangguan pengikutnya dan takut hilangnya kekuasaan yang ada di tangannya.

Heraklius pernah berkata kepada Dihyah bin Khalifah tatkala beliau membawa surat dari Rasulullah kepadanya,

“Celaka, sungguh aku mengetahui bahwa temanmu itu (yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah nabi yang diutus, dan dialah yang kami tunggu-tunggu dan kami mendapatkan (beritanya) dalam kitab-kitab kami. Akan tetapi aku mengkhawatirkan diriku dari orang-orang Romawi. Seandainya bukan karena itu, sungguh aku akan mengikutinya. Pergilah engkau kepada Dhagathir Al Ashqaf Ar Rumi, ceritakanlah kepadanya tentang perkara temanmu ini!, Ia (kedudukannya) lebih agung dariku dan perkataannya lebih diterima di sisi orang-orang Romawi. Lihatlah apa yang akan dikatakannya.”

Maka Dihyah pun datang kepadanya dan mengabarkan dengan apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengannya. Setelah Dhagathir membaca isi surat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, ia pun berkata; “Temanmu ini demi Allah adalah nabi yang diutus, kami telah mengenalnya dengan sifat-sifatnya, dan kami dapatkan namanya dalam kitab-kitab kami.”

Maka ia pun melepaskan pakaian hitam yang dikenakannya dan menggantinya dengan pakaian yang berwarna putih. Kemudian ia mengambil tongkatnya dan keluar menemui orang-orang Romawi, sedang mereka saat itu sedang berada dalam tempat ibadah mereka.

Ia pun berkata, “Wahai bangsa Romawi, telah datang kepada kita surat dari Ahmad, surat ini berisi ajakannya kepada Allah. Sungguh aku bersaksi laa ilaha illallah dan aku bersaksi bahwa Ahmad adalah utusan Allah.”

Maka orang-orang pun serentak menyerbunya. Mereka memukulinya dan membunuhnya. Setelah itu, Dihyah pun kembali menemui Heraklius dan mengabarkan kabar tersebut. Maka Heraklius berkata, “Sungguh aku telah mengatakan kepadamu, bahwa kami merasa takut atas diri-diri kami sedangkan Dhagathir demi Allah merupakan orang yang lebih agung di sisi orang Romawi.”

Saat terjadi pertempuran antara kaum muslimin dan bangsa Yahudi, lalu kaum muslimin memenangkan perang tersebut, banyak dari pasukan Yahudi terbunuh dan tersisalah ghanimah yang banyak berikut tawanan-tawanan perang yang menjadi hamba sahaya dari kalangan anak-anak dan wanita mereka yang dibagikan kepada muslimin.

Di antara tawanan tersebut ada putri dari pemimpinnya, yaitu Shafiyah bintu Huyay. Semula Shafiyah jatuh dalam bagian kepemilikan Dihyah Al Kalbi. Namun melihat kepada kedudukan Shafiyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membeli Shafiyah, beliau membebaskan dan kemudian menikahinya. Hal ini terjadi di tahun ke tujuh hijriyyah.

Dihyah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan beberapa hadis Nabi. Di antara yang mengambil riwayat dari beliau adalah Manshur bin Said Al Kalbi, Muhammad bin Kaab, Abdullah bin Syadad bin Had, Aamir As Sya’bi, Khalid bin Yazid bin Muawiyyah. Hidup hingga masa kepemimpinan Muawiyah. Beliau tinggal di Mizzah, sebuah daerah di dekat negeri Damaskus dan meninggal di sana. Tidak diketahui secara pasti waktu meninggalnya. Radhiyallah anhu – semoga Allah meridhai beliau. [Ustadz Hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 74 vol. 7 1439 H/2018 M rubrik Figur.
http://ismailibnuisa.blogspot.co.id/2017/12/dihyah-al-kalbi-radhiyallahu-anhu.html

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia